Pagar Anoa Dipasang di Lahan SISKA

Pagar Anoa Dipasang di Lahan SISKA (Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit)

SISKA adalah Sistem Integrasi Sapi Kelapa Sawit yang dipelopori awalnya oleh program Indonesia Australia Commercial Cattle Breeding (IACCB) sejak tahun 2016. Program ini telah berhasil membuktikan bahwa pembiakan sapi di wilayah perkebunan kelapa sawit dapat dilakukan, bahkan memberikan manfaat tambahan, antara lain:

  1. Pertumbuhan populasi sapi sebagai tambahan pendapatan.
  2. Kotoran dan urine sapi dapat dimanfaatkan selain sebagai tambahan pupuk juga sebagai media perkembangan mikroorganisme yang akan membantu menyuburkan tanah.
  3. Mendorong terciptanya industri dan bisnis yang berkelanjutan yang mendukung program pemeliharaan lingkungan hidup yang semakin diminati oleh banyak negara.
  4. Divertifikasi usaha.
  5. Rumput-rumput yang tumbuh liar yang menganggu pertumbuhan pohon sawit di dalam Perkebunan bisa berkurang.

Sebagai catatan, peternakan sapi yang dilakukan oleh masyarakat khususnya di luar Pulau Jawa adalah dengan cara lepas liar. Sapi-sapi dibiarkan berkeliaran bebas di suatu area untuk mencari makanannya sendiri. Lalu mereka akan melakukan pembiakan sendiri secara alami yang kemudian jumlahnya akan terus berkembang juga secara alami. Kondisi ini dimungkinkan sebab kondisi alam Indonesia yang subur sehingga kaya akan hijauan sebagai makanan hewan ternak tersebut. Jadi faktanya untuk di beberapa tempat, populasi sapi lebih dulu ada sebelum perkebunan kelapa sawit. Lahan-lahan terbuka hijau yang luas tersebut lambat laun berubah peruntukannya dimana salah satu yang paling banyak perubahannya yaitu menjadi perkebunan kelapa sawit. Dalam skala kecil perubahan ini tidak serta merta akan membatasi dan mengurangi perkembangan ternak sapi model lepas liar. Namun untuk skala yang lebih besar lagi, peternakan sapi di tengah perkebunan kelapa sawit menjadi susah dikelola dan memberikan perbenturan kepentingan atau konflik antara peternak dengan petani. Sapi-sapi yang merumput di mana saja, termasuk ke area perkebunan kelapa sawit akan merusak pohon sawit, terutama pohon muda. Lalu para peternak pada saat mencari ternaknya harus masuk ke area perkebunan kelapa sawit dimana seharusnya tidak diperkenankan.

Untuk mengatasi permasalahan ini, program SISKA berupaya menciptakan kemitraan saling menguntungkan antara Peternak dan Perusahaan Perkebunan Kelapa Sawit. Model yang diterapkan adalah penggembalaan ternak secara bergilir dari satu area ke area lain di perkebunan kelapa sawit (rotational grazing). Dengan model ini, ternak akan kembali ke area yang sebelumnya setelah rumput di area tersebut tumbuh kembali. Imbasnya pohon sawit muda pun akan terlindungi dari kerusakan akibat sapi-sapi tersebut.

Untuk menerapkan model ini, maka pagar merupakan elemen yang sangat penting. Secara modern penggunakan pagar listrik merupakan pilihannya, karena pagar tipe ini mudah sekali untuk dipindah-pindahkan. Namun untuk di area tertentu yang memerlukan kondisinya yang lebih permanen Pagar Anoa bisa menjadi pilihan karena lebih ekonomis. Pagar Anoa yang menggunakan bahan dasar kawat baja karbon tinggi dan lapisan yang tahan karat yaitu Bezinal 2000 (zinc 90% dan aluminium 10%) sehingga tahan lama adalah pilihan terbaik saat ini buat lahan seperti ini.

Model rotational grazing ini berhasil mengurangi potensi konflik antara perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan peternak. Program integrasi ini juga secara bertahap membuat Para peternak dapat berkembang dalam pengelolaan ternak mereka untuk menjadi lebih efisien dan lebih terstruktur. Lalu di pihak lain pohon kelapa sawit milik perusahaan terlindungi dan berkurang tingkat kerusakannya. Potensi pengembangan program SISKA masih sangat besar mengingat perkebunan kelapa sawit di Indonesia masih sangatlah luas.